Selasa, 08 Maret 2011
Diaaa
Datang karena ku undang.
Yeah . . . mungkin itu sangat cocok dengan apa yang kualami sekarang.
Dia datang kembali setelah aku yang memulai hubungan talisilaturahim.
Dia berada di tengah tengah kehidupanku sekarang.
Dia yang pernah ku kecewakan karena ku tolak rasa inginnya terhadapku.
Ku mengira dia marah tapi dia masih terbuka untukku.
Dulu memang ku akui aku salah karena telah mengabaikan rasanya.
Tapi dulu aku memang tak bisa memaksakan rasaku untuk merespon rasanya.
Karena rasa itu tak bisa dipaksakan, ataupun karena rasa kasihan.
Tapi rasa itu haruslah ikhlas.
Dia selalu ada di hari hariku belakangan ini.
SMSnya selalu meramaikan Inbox HaPeku.
Dia telah mengaggapku sahabatnya.
Tiap SMSnya selalu ada kata sob yang artinya sobat atau Sahabat.
Aku tak pernah membayangkan dia masih mau menerimaku sebagai temannya.
Meskipun dulu telah kusakiti dengan jawaban rasaku yang mengatakan TIDAK.
Dia masih seperti yang dulu.
Lugu, polos dan apa adanya yang ngomongnya ceplaz ceploz tanpa beban.
Aku tau sekarang, dalam hal kehidupan dia tak seperti dulu.
Ku dengar kabar kalau dia sudah bekerja.
Dan trakhir aku dengar langsung dari dia katanya dia lagi kursus.
Alhamdulillah aku ikut bersyukur meskipun tidak ku ungkapkan di hadapannya.
Mungkin ia baru banyak berfikir tentang masa depannya.
Dulunya ia selalu pasrah dan tidak pernah semangat untuk bangkit dengan tujuan masa depan.
Dalam renggang waktu saat aku lost conteck sama dia, akupun mendapatkan berita kalau Ayahnya meninggal.
Tapi sampai saat ini aku belum berani menanyakan kebeneran hal ini kepadanya.
Aku takut dia sedih, jadi ku biarkan berlalu tanpa ada apa apa.
Ku yakin berita ini benar adanya karena sahabat terdekatnya yang memberitahuku.
Sahabatnya yang bernama Fitri, dia tak pernah berbohong padaku kalo soal dia.
Karena dulu sahabatnya itu selalu bilang padaku untuk menerimanya tapi tetep aku tak pedulikan.
Dan sampai saat inipun sahabatnya itu selalu dan selalu ingin melihat aku bersama dia, dalam hal ini pacaran.
Tapi hatiku tak bisa untuk menerimanya.
Dulu memang ku pernah berfikiran untuk menghapus dia dari hidupku.
Dulu aku emosi melandaku karena ada teman seprofesiku yang mulutnya tak punya rem kalo cerita.
Dia cerita sana sini tentangku sama dia padahal semuanya tak benar adanya.
Sampai kuping ini terasa panas dan kucamkan untuk tak berkomunikasi dengannya.
Dulu memang egoismeku sangat tinggi.
Karena ku malu dengan rumor yang bredar tapi tak benar.
Ini semua karena teman seprofesiku yang mengumbar gosip yang tidak tidak tentangku bersama dia.
Sekarang semuanya telah berlalu dan biarlah masa lalu itu menjadi pelajaran buatku.
Sekarang persahabatan membuatku jadi dekat dengannya.
Dan ku berharap dia akan tetap dan tetap menjadi sahabatku.
Amien . . .
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar